The Forest: Melawan Kutukan Hutan Maut

The Forest: Melawan Kutukan Hutan Maut

Sara price (Nataline Dormer) adalah seorang wanita modern. Tinggal di sebuah apatermen mewah di kota besar,mempunyai tunangan dan kehidupan berkecukupan.
Tapi, dia juga memiliki saudara kembar dengan kpribadian gelap, Jess (di perankan oleh Dormer)

Alkisah, mereka punya cerita masa kecil yang kelam.
Menjadi saksi dari kematian tragis kedua orangtua mereka.
Hal itu membuat Sara dan Jess tumbuh dengan karakter yang berbeda.

Sara adalah kembaran yang bersifat logis dan dewasa, sementara Jess sembrono, nekat dan cenderung pemberontak.
Jess juga nekat pergi ke Jepang untuk menjalani hidup baru, setelah nenek yang mengasuh mereka berdua, meninggal.

 

Di sinilah cerita mulai menarik. Sara mendapat telepon yang memberitahu bahwa Jess menghilang di Hutan Aokigahara, Jepang.
Hutan di kaki gunung Fuji yang punya mitos menyeramkan.
Barang siapa yang keluar dari jalur setapak dalam hutan, akan berhalusinasi, hingga kemudian bunuh diri.

Masyarakat Jepang percaya, hutan tersebut dikutuk.
Mereka yang pergi ke Aokigahara dan tidak muncul hingga beberapa hari kemudian, pastilah sudah tak bernyawa.

Pemeran The Forest, Taylor Kinney (kiri) dan Natalie Dormer bersama Ed Westwick di acara People’s Choice Awards.
(Frazer Harrison/Getty Images)

Tapi, Sara tidak begitu saja percaya dengan telepon dari Jepang itu.
Berbekal intuisi dan hubungan batin kuat saudara kembar, Sara meyakini Jess masih hidup.
Dia pun langsung terbang ke Negeri Sakura, tanpa mengindahkan larangan sang tunangan.

Tiba di Jepang, Sara bertemu wartawan petualang, Aiden (Taylor Kinney).
Bersama-sama dengan sukarelawan pengawas hutan Aokigahara, Michi (Yukiyoshi Ozawa), mereka mencari Jess ke dalam hutan maut.

Sayangnya, kisah yang seharusnya menarik itu berubah klise.
Hantu-hantu penghuni hutan Aokigahara, muncul dengan formula wajib film horor.
Para hantu muncul tiba-tiba dengan musik mengagetkan. Tokoh Sara yang semula begitu kuat dan independen pun langsung berubah klise, layaknya pemeran utama film horor kelas dua.

Tim penulis skenario Nick Antosca, Sarah Cornwell, dan Ben Ketai seolah tak tahu bagaimana mengolah kedalaman budaya dan kisah mitos Aokigahara jadi sajian menarik.
Kedekatan batin saudara kembar yang seharusnya digali lebih dalam pun, hanya muncul di permukaan.

Perlahan, film garapan Jason Zada itu kehilangan pesonanya.
Alih-alih film horor yang akan jadi buah bibir, The Forest bisa dikatakan akan tenggelam saat bulan berakhir.

Padahal dari sisi sinematografi, The Forest adalah film yang indah. Matthias Troelstrup mengambil sudut-sudut personal dari Sara, yang membuat penonton jatuh cinta.
Di sisi lain, hutan Aokigahara pun disajikan dengan indah. Pepohonan disyuting dari ketinggian, lengkap dengan kabut dan latar belakang gunung Fuji, menambah aura mistis sang hutan maut.

Cerita dengan alur maju-mundur juga memberi bobot menarik pada film.
Penonton bisa melihat kuatnya hubungan batin saudara kembar tersebut, dan mengerti kegigihan Sara mencari Jess.

Namun, kekuatan itu digagalkan skenario dangkal dan alur yang bisa ditebak.
Twist dan kejutan dalam film terlalu sedikit dan datang terlambat. Singkat cerita, The Forest adalah film horor yang gagal.

Wajar jika The Forest yang dirilis 8 Januari 2016, hanya berhasil mengumpulkan US$515 ribu di hari pertama penayangannya.
Jauh dari harapan sebesar US$8-10 juta.

Jika ada satu hal yang harus dipuji dari The Forest, itu adalah penampilan Dormer.
Dia berhasil menghidupkan dua karakter, membuat penonton jatuh cinta, kemudian membenci sang karakter utama. Di sisi lain, Kinney hanya sukses menjadi eye candy, gula-gula dalam film.

Mungkin Anda Menyukai