Coming Soon

Coming Soon merupakan film horor yang berasal dari Thailand. Shane (Chantavit Dhanasevi) adalah seorang proyektor teater yang ditunggangi utang yang telah menjanjikan untuk membongkar film horor.

Thailand yang banyak bernada heboh yang berkaitan dengan semangat pendendam seorang wanita desa yang gila yang digantung setelah ia menemukan anak-anak yang menculik dan membutakan.

Setelah menghilangnya temannya yang sedang merekam film di teater dengan DV-cam-nya,
Shane menemukan kamera DV dan melihat rekaman temannya meringkuk ketakutan pada sesuatu yang dilihatnya.
Ketika Shane menjalankan film horor untuk dirinya sendiri di teater lagi, dia terkejut melihat temannya di dalam film dengan mata dicungkil.
Keesokan harinya ketika staf bioskop mencari bajakan yang hilang, Shane bertemu Shomba (Oraphan Arjsamat) roh jahat yang digambarkan dalam film di beberapa tempat.
Akhirnya, ia menemukan rahasia mengerikan di balik film angker itu.

 

Coming Soon

 

Shane dan Som (Vorakan Rojchanawat) melakukan perjalanan ke rumah asli Shomba yang takut kalau arwahnya mengejar Shane karena menonton film.
Mereka ingin menghancurkan jasadnya agar dia tidak lagi bisa mengejar Shane

Mereka sampai di rumah dan Shane jatuh melalui lubang terbuka di lantai setelah menyelamatkan Som dari terkena kipas langit-langit.
Mereka pergi ke rumah sakit dan dokter bertanya pada Shane dan Som mengapa mereka masuk ke rumah.
Mereka menjawab mengatakan bagaimana mereka ingin melihat tempat peristirahatan terakhir Shomba.
Dokter kemudian mengatakan bahwa Shomba tidak dibunuh oleh penduduk desa tetapi berada di rumah sakit jiwa.
Di perusahaan film yang membuat film horor, Shane melihat film yang menunjukkan aktris itu bermain di luar layar beberapa kali.
Direktur kemudian mengeluh bahwa dia adalah seorang aktris yang mengerikan yang tidak dapat meninggal dengan baik.
Kemudian aktris itu memohon pada sutradara untuk mencoba sekali lagi untuk menyempurnakan adegan.

Sutradara mengambil adegan lain dan satu kru mulai memperhatikan bahwa bar keselamatan untuk tali di leher aktris rusak dari perjuangan aktris untuk melakukan adegan dengan sempurna.
Setelah beberapa menit, aktris itu kemudian meninggal dan para kru mulai merawatnya tetapi mereka tahu dia sudah mati.
Shane tiba-tiba mengetahui bahwa alasan mengapa Shomba menghantui pemirsa, termasuk kru lainnya adalah untuk balas dendamnya tentang mengapa mereka akan mempublikasikan film, meskipun dia sudah mati.

Shomba kemudian terus menghantui Shane (Yang Chen di Thailand) Sampai pada titik Shane tiba-tiba memasuki sebuah ruangan di mana teman-temannya yang lain tidak memiliki mata.
Dia tidak tahu bahwa Som (EX Girlfriend of Shane) benar-benar memperhatikannya di layar teater tempat dia bekerja.
Som kemudian melihat tangan Shomba mulai mencungkil mata Shane, berteriak memanggil namanya, dan menangis untuk kesedihan

THE BABADOOK

THE BABADOOK

THE BABADOOK – Belakangan ini,film horor mulai berkembang dengan sedikit-sedikit mengurangi jump scare murahan yang mulai usang.

Seperti beberapa waktu lalu,It Follow (2014) berhasil memberikan nuansa baru sebagai film horor yang tidak hnaya menyeramkan,tapi juga fresh meski kita sadari konsepnya cukup konyol.

Film asal Australia karya Jennifer Kent yang berjudul The Babadook ini mengulangi hal yang sama dengan minimalisir pengunaaan jump scare dan lebih banyak bermain dengan creepy sound.

Dalam beberapa aspeknya,The Babadook bahkan jauh mengunguli It Follows,terutama dari aspek karakterisasinya.

Konsep yang dibawa Jennifer Kent kedalam film ini sebenarnya bukan hal yang baru,yaitu tentang perasaaan takut yang terus menerus membayangi seorang anak kecil,terutama saat meraka akan tidur.
Tekanan muncul ketika seorang anak kecil yang mempercayai hal-hal diluar logika itu malah membuat mereka yang sudah dewasa berusaha keras untuk meyakini bahwa hal tersebut tidaklah nyata.

Kemunculan buku misterius disini juga semakin menambah daftar komponen yang biasanya sudah jamak ada dalam film horor.
Tapi,jennifer karakterisasinyaent memberikan formula yang berbeda dalam pengemasannya,sehingga The Babadook menjaddi terlihat lebih stylish,tanpa melupakan unsur keseramannya.

Baca Juga: Halloween: The Night Evil Died (2017)

Tone yang sangat gelap dipadu pengambilan gambar cepat dan permainan musik yang creepy,merupakan salah satu usaha Jennifer Kent dalam membangu atsmosfir yang begitu menyeramkan dan menegangkan diri.

Berbeda dengan film horor lainnya yang lemah soal karakter,The Babadook justru kuat di bagian tersebut.
Kita diperkenalkan dengan dua karakter utama di sini,Amelia dan samuel yang m,asih berumur tujuh tahun,Amelia,
terlihat dengan penampilan yang begitu kusut dan terkadang sosok suaminya,Oskar (Benjamin Winspear),yang meninggal di hari yang sama saat ia melahirkan Samuel yang diluar kendali.
Serimh pula ia membuat maslah dengan anak seumurnya dan menceritakan kisah tidak logis yang membuatnya dipandang (aneh).
Kesan claustrophobic semakin terasa ketika semua masalah yang perasaan was-waas pasca penemuaan buku berjudul Mister Babadook itu.
Sekilas karakter Amelia dan Samuel imi sedikit mengingatkan sayan akan karakter Diane yang single parent dan anaknya yang nakal Steve,dalam film berjudul Mommy (2014)

Sosok Amelia ini memang cukuo mnarik untuk dikaji lebih mendalam,tapi space tidak cukup untuk menuliskannya di sini.
Selain Amelia dan Samuel,sosok misterius Babadook tentunya juga tidak kalah seru untuk menjadi bahan ulasan kali ini.
Ia digambarkan sebagai pria tinggi besar dengan jas dan topi hitam.
Saya tidak tahu apakah Mister Babadook ini merupakan urban legend dari Australia atau bukan,tapiu dengan deskripsi yang terlihat seerhana dari saya rasanya tidak
cukup untuk menggambarkan sosok Mister Babadook yang dibuat sekilas-sekilas lalu diiringi dengan crepy sound memang terbukti ampuh membuat saya bebrapa kali harus untuk menutup mata.
Ketika Mister Babadook menelpon,itulah momen paling ‘menyesakkan’ menurut saya.
Sesekali ,ketika Amelia tidak bisa tidur dan menonton tv dengan footage-footage film klasik era 1920-an (seperti filmnya George Melles),
heranya dapat membangkitkan atsmosfir yang juga tidak kalah menyeramkan,meskipun sebenarnya tidak ada yang salah dengan film-film klasik tersebut.

 

THE BABADOOK

 

Pada awalnya, keberadaan Mister Babadook sepertinya memiliki alternate jawaban, antara murni dari fantasi Samuel belaka atau memang pure sosok hantu.
Kemudian di antara bagian second dan third act-nya, tepatnya saat Amelia mulai terlihat terkena demonic possession,
saya mulai beranggapan bahwa segala kegilaan yang dialami Amelia hanyalah hasil dari alam bawah sadarnya saja.
Segala permasalahan yang terkubur dalam benaknya, termasuk efek kehilangan suaminya, ia luapkan sepenuhnya saat fase ‘kerasukan’ tersebut.
Atensi saya semakin meningkat di bagian ini, karena unsur psychological thriller-nya mulai menguat dan terus memberikan rasa penasaran saya hingga akhir film.
Sejenak saya langsung terfikirkan oleh salah satu masterpiece dari seorang Stanley Kubrick, The Shining (1980),
dimana salah satu karakternya mulai hilang kendali dan akan membantai keluarganya.

Penonton boleh menilai sendiri bagaimana ending yang diberikan oleh Jennifer Kent,
termasuk ke-eksistensian Mister Babadook itu sendiri.
Dari sudut pandang saya, sebenarnya ‘sedikit’ kecewa dengan apa yang dihadirkan oleh Jennifer Kent di sini.
Tapi semua sudah termaafkan dengan segala aspek yang begitu kuat dibangun bahkan sejak menit-menit pertama berjalan.
Diangkat dari film short film Kent sendiri yang berjudul Monster (2005),
The Babadook telah masuk ke daftar film horror favorit saya yang selama ini masih cukup sedikit untuk saya isi.
Tidak hanya memberikan hiburan dengan ‘menakut-nakuti’, The Babadook juga memberikan meaning yang kuat pada karakternya, Amelia dan Samuel.
Seru serta menegangkan, dan mampu keluar dari cheap scares yang sudah menajamur.